Belajar IKHLAS

Optimasi Syukur Belajar Ikhlas


"Barangsiapa yang mau beruntung sepanjang hari, bisa dimulai pagi ini dengan bersedekah"
"Perbanyak sedekah biar lancar bisnisnya, sembuh penyakitnya! "

Dan masih banyak fenomena kata-kata penarik sedekah yang bisa kita temui di media sosial sekarang ini. Bukan saya tidak mendukung atau anti terhadapnya, karena semua ini adalah bagian dari PEMBELAJARAN. Budaya masyarakat kita yang tidak peka terhadap masyarakat lainnya akhirnya luntur dengan berbagai gerakan yang aktif menyalurkan bantuan ini sampai ada yang tanpa meminta sepeserpun. Oleh karenanya pembelajaran ini terus saya dukung sambil saya praktik di kehidupan nyata, karena saya sendiri mempercayai janji Allah tuk melipatgandakan sedekah itu jelas adanya.
Buku-buku karya Ippho, Ustadz YM, Saptuari, Mas Mono dan lainnya juga memotivasi kita untuk terus bersedekah disertai kepekaan terhadap keadaan sosial sekitar. Tetapi tips dari saya sebelum memberikan bantuan coba cek bagaimana kegiatan mereka dalam penyaluran sedekah, ke mana segmentasi mereka dalam penyalurannya, agar kita mengetahui penuh kemanfaatan sedekah kita.
Namun, fenomena positif tersebut tidak terlepas dari nilai negatif dan bisa merusak akidah dan pemikiran kita, mas Jaya Setiabudi dalam workshop #KitabAntiBangkrut tanggal 27 kemarin mengingatkan bagaimana sebagian dari mereka menggatakan "yuk sedekah, mengurangi dosa, menambah pahala" yang dalam pembahasan ini sebenarnya dalam teks hadits yang telah saya cari belum ada riwayat yang shohih. Dan pemikiran ini bisa merusak akidah kita sebagai Muslim misalkan ada yang berpikiran, "udah ah sedekah aja abis ni, biar dosaku kurang lagi". "ah mau nyuri terus sedekah sedikit biar dosanya berkurang" (na'udzubillah). 
Saya setuju dengan alasan mas J yang mengkritisi ini, bisa jadi masyarakat awam yang awalnya belajar dapat mensalahartikan hal ini bila sang penyedia layanan sedekah tidak menjelaskan dengan benar, akhirnya berbelok niat (Semoga kita terhindar dari niatan negatif). Saya juga mendapat pesan dari seorang kakak kelas di Pesantren terkait hal ini agar kita lebih banyak belajar IKHLAS dalam memberi, dinyatakan dalam Firman Allah SWT pada surat Al-Muddatstsir ayat 6 وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ "Dan jnganlah kmu memberi, (dengan maksud) memperoleh (balasan) yg lebih banyak." – (QS.74:6). 
Apalagi setelah saya cari, banyak ayat Quran dan Hadits shohih yang memotivasi kita tuk ikhlas, salah satunya adalah وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).  Hadits أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu." HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88.

Sedekah juga tidak melulu dengan materi (uang) yang kita punya, banyak cara dapat kita lakukan tuk memberikan manfaat tuk orang lain. Seperti contohnya tadi malam di acara Kick Andy ada seorang ibu yang mendaur ulang bukit sampah sekitar rumahnya menjadi bio gas yang dapat digunakan tuk lingkungan sekitar. Mari belajar ikhlas memberi kemanfaatan tuk orang lain, yakinlah Allah kan membalas :) 

Melihat tren sedekah tuk membantu kegiatan sosial dsb adalah bagian dari pembelajaran, intinya Allah telah berfirman dalam Surat Al-Muddatstsir ayat 6 وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ dan jnganlah kmu memberi, (dg maksud) memperoleh (balasan) yg lbh byak." – (QS.74:6) "Yuk Blajar IKHLAS" #SabtuSeru :) (Si Boyo: 02-03-13)